Kamis, 26 Juli 2012

Puasa adalah kesunyian

Ramadhan, bulan yang menghadirkan kesadaran semesta, meski kadang sesaat namun cukuplah, daripada tak ada nilai plus sama sekali dalam kehidupan kita. 

Menelisik persiapan ummat manusia menyongsong ramadhan, dengan sebanyak bekal - bukan taqwa- tentunya, karena ternyata persiapan itu masih bersifat material, " buka nanti masak apa ma?! untuk sahur sudah dibeli belum?" 

Itu dalam menitan waktu di sepuluh hari pertama, meranjak di sepuluh hari kedua, maka orderan karpet, kursi, cat tembok dan pernak pernik eksterior-interior menjadi prioritas yang mengalahkan tahajud, dhuha, qur'an, dzikir, jama'ah, ta'lim dan ibadah lainnya.

Tuhan tak lagi indah, karena keindahannya masih kalah dengan tatakelola ruang tamu dalam menyambut hari raya yang konon katanya fitri atau bersih, meski setiap kita sendiri menyadari bahwa dalam kefitrian itu, kita tak betul-betul bersih, hanya pura-pura suci.

Jangan tanya di sepuluh hari terakhir, saat Tuhan menurunkan 'Lailatul Qodar', saat Masjid dihuni puluhan orang yang meringkuk sepi, mengisi malam dalam munajat jiwa nan sunyi, beriringan suara blander, open, kompor, kocokan bolu, bau harum kue putri salju atau bolu pandan yang berwarna hijau. Suara dzikirnya tak berbunyi ' Laa ilaaha illa Allah" tetapi " mama baju ini baguskan?" wah sepatu adek keren ya?? batik yang kita pesan sudah jadikan ma?? bla..bla...bla......inilah hingar bingar 'Lailatul Qodar" tambahannya ketupat dan opor ayam menjelang hari raya.

Entah, apa yang ada dibenak kita semua tentang ramadhan?
entah apa yang ada di hati kita semua tentang puasa??
yang jelas, bertahun sudah kebiasaan itu berulang dan semakin hari, keindahannya semakin pudar..
karena Ramadhan tak lagi memiliki Ruh kesunyiaan, ia telah menjelma menjadi material padat yang dapat dibeli pada toko, warung dan pasar, bukan pada sesunyi di mihrob dan tepian langit ilahi....

Oh ramadhanku......
maafkan aku yang tak mampu memuliakan sebagaimestinya engkau yang begitu mulia...

Oh ramadhanku....
Jangan engkau marah pada kejahilan kami, yang masih menganggapmu hanya sebagai jembatan menuju aidil fitri, padahal takkan terjadi hari raya tanpamu....

Oh ramadhanku....
Kuyakiin bahwa engkau tetap menemukan sahabat-sahabatmu yang tekun dalam bhakti, yang jiddiyah dalam mujahadah dan tentunya mereka yang sengsara dalam kecintaan pada Allah sang Empunya segala...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar