Selasa, 31 Juli 2012

Menemui Tuhan ( bagian 1 )


Bang To’ing merenung, apa iya Tuhan bisa ditemui?? Bukankah Dia itu ghaib? Dan Nabi Musa saja tak mampu menemuinya? Apalagi sekedar To’ing!” haeulah pusing amat mikirinnya. Lagian siapa suruh pake mikir! Tiba-tiba ada suara dari dalam bathinnya. “siapa kamu? Tanya bang To’ing?’ tak perlu engkau tau siapa aku ing! Cukuplah engkau dengarkan saja celotehku ini, nanti juga engkau akan faham??” balas suara dalam hati bang To’ing. “ah, jangan-jangan kamu iblis atau jin? Nanti malah aku tersesat karena mengikutimu!” sanggah bang To’ing. Begitulah kamu Ing! Makanya kamu sulit memahami hakikat dari sebuah ilmu, kerjaanmu curiga saja!’ cobalah sesekali kami itu pasrah dan berbaik sangka dengan siapapun, niscaya kamu akan mendapatkan hikmah yang banyak. Bang To’ing terdiam bak orang gagu, tiba-tiba ia terpejam sembari menghirup nafas, “terserahlah! Aku pasrah...!”

Dalam sebuah munajatnya Nabiallah Ibrahim berkata “ Wahai Tuhanku, bagaimanalah mungkin aku mengenal-Mu kalau bukan karena-Mu”. Sebuah pengakuan yang teramat jujur (sidiq), bahwa kemampuan akal takkan bisa menemukan Allah, secerdas apapun akal itu, apalagi yang menggunakan hawa nafsu. Dia Allah adalah sumber cahaya, sumber hidayah, sumber ma’rifah itu sendiri. Dialah yang awwal dari segala sesuatu dan Dialah yang akhir dari segala sesuatu. Akal hanya mampu menangkap tanda-tanda kekuasaan-Nya saja, itupun karena percikan ilmu yang Dia sebarkan pada semesta. Maka tengoklah manusia yang berupaya meng’akali’ Tuhan, pada akhirnya mereka membayangkan bentuk dan wujud Tuhan, mereka menjism-kan Allah, menyamakan Allah dengan mahluk, meski disematkan dalam bayangan tentang Tuhan itu sifat-sifat ketuhanan. 

Allah adalah dzat yang Wajibul wujud, mustahil yang mengadakan segala sesuatu tersembunyi dari apa yang Ia ciptakan, tapi wujudnya Allah Laitsa kamitslihi syaiun, tidak serupa dengan segala sesuatu apapun, mukholafatuhu lil hawaditsih, berbeda dengan ciptaan-Nya. Jika demikian, mungkinkah Allah tergambar dalam rupa, warna dan bentuk? Mustahil, itulah jawabannya. Lalu kenapa ada istilah awwaludin ma’rifatullah?? Awal agama adalah mengenal Allah, ya ini merupakan pondasi yang asasi, seperti halnya syahadat (penyaksian), kenapa dua kalimat syahadat menjadi rukun Islam yang pertama sebelum yang lainnya? Karena tidak sempurna sholat, puasa, zakat serta haji kita jika syahadatnya tidak benar. Maka ilmu ma’rifatullah menjadi satu kewajiban yang utama, karena tanpanya kewajiban lain menjadi tidak sempurna.    ( مـا لأ يــتــم ا لــو ا جــب ا لا بـه فــهــو و ا جــب ) Tidak akan sempurna suatu kewajiban kecuali dengan sesuatu yang lain, maka sesuatu yang lain itu pun hukumnya menjadi wajib (kaidah ushul fiqh). Maka hukum mempelajari ilmu tentang Allah menjadi wajib sebelum mengetahui tentang ilmu-ilmu yang lain.

“Bang!! Tiba-tiba bang To’ing dikagetkan oleh suara bininya, “deuh si bini, mesti aja begini, heran gua, kagak pernah bisa liat laki bahagia aja dikit, langsung dah!!” Nape mama tayang?!’ jawab bang To’ing rada manyun. “Jiah, marah ni ceritanye ama aye?? Sergah pok Rogaya sembari melotot. “nyang mareh sape sayang?! Bang To’ing dah mulai ketakutan. “ntu bibir monyong kaia orang kagak seneng aje, aye pan Cuma mau nganterin nih kopi bakal abang. Ya udah dah, minum tuh kopi!!’ teriak pok Rogaye sambil ngluyur. “Tumben dah bini, kerasukan ape ya?!!’ gumam bang To’ing sendirian. “Daaaah, lewat dah kajian tadi, belon tentu tuh yang bisik-bisik dateng lagi!! Cape de...!! sambil tangannya nyodok tuh kopi..”syruput!!”.......

Add caption
(bersambung dah...)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar