Bang To’ing merenung, apa iya
Tuhan bisa ditemui?? Bukankah Dia itu ghaib? Dan Nabi Musa saja tak mampu
menemuinya? Apalagi sekedar To’ing!” haeulah pusing amat mikirinnya. Lagian siapa
suruh pake mikir! Tiba-tiba ada suara dari dalam bathinnya. “siapa kamu? Tanya bang
To’ing?’ tak perlu engkau tau siapa aku ing! Cukuplah engkau dengarkan saja
celotehku ini, nanti juga engkau akan faham??” balas suara dalam hati bang To’ing.
“ah, jangan-jangan kamu iblis atau jin? Nanti malah aku tersesat karena
mengikutimu!” sanggah bang To’ing. Begitulah kamu Ing! Makanya kamu sulit
memahami hakikat dari sebuah ilmu, kerjaanmu curiga saja!’ cobalah sesekali
kami itu pasrah dan berbaik sangka dengan siapapun, niscaya kamu akan
mendapatkan hikmah yang banyak. Bang To’ing terdiam bak orang gagu, tiba-tiba
ia terpejam sembari menghirup nafas, “terserahlah! Aku pasrah...!”
Dalam sebuah munajatnya Nabiallah
Ibrahim berkata “ Wahai Tuhanku, bagaimanalah mungkin aku mengenal-Mu kalau
bukan karena-Mu”. Sebuah pengakuan yang teramat jujur (sidiq), bahwa kemampuan
akal takkan bisa menemukan Allah, secerdas apapun akal itu, apalagi yang
menggunakan hawa nafsu. Dia Allah adalah sumber cahaya, sumber hidayah, sumber
ma’rifah itu sendiri. Dialah yang awwal dari segala sesuatu dan Dialah yang
akhir dari segala sesuatu. Akal hanya mampu menangkap tanda-tanda kekuasaan-Nya
saja, itupun karena percikan ilmu yang Dia sebarkan pada semesta. Maka tengoklah
manusia yang berupaya meng’akali’ Tuhan, pada akhirnya mereka membayangkan
bentuk dan wujud Tuhan, mereka menjism-kan Allah, menyamakan Allah dengan
mahluk, meski disematkan dalam bayangan tentang Tuhan itu sifat-sifat
ketuhanan.
Allah adalah dzat yang Wajibul
wujud, mustahil yang mengadakan segala sesuatu tersembunyi dari apa yang Ia
ciptakan, tapi wujudnya Allah Laitsa kamitslihi syaiun, tidak serupa dengan
segala sesuatu apapun, mukholafatuhu lil hawaditsih, berbeda dengan
ciptaan-Nya. Jika demikian, mungkinkah Allah tergambar dalam rupa, warna dan
bentuk? Mustahil, itulah jawabannya. Lalu kenapa ada istilah awwaludin ma’rifatullah??
Awal agama adalah mengenal Allah, ya ini merupakan pondasi yang asasi, seperti
halnya syahadat (penyaksian), kenapa dua kalimat syahadat menjadi rukun Islam
yang pertama sebelum yang lainnya? Karena tidak sempurna sholat, puasa, zakat
serta haji kita jika syahadatnya tidak benar. Maka ilmu ma’rifatullah menjadi
satu kewajiban yang utama, karena tanpanya kewajiban lain menjadi tidak
sempurna. ( مـا لأ يــتــم ا لــو ا جــب ا لا بـه
فــهــو و ا جــب )
Tidak akan sempurna suatu kewajiban kecuali dengan sesuatu yang lain, maka
sesuatu yang lain itu pun hukumnya menjadi wajib (kaidah ushul fiqh). Maka
hukum mempelajari ilmu tentang Allah menjadi wajib sebelum mengetahui tentang
ilmu-ilmu yang lain.
“Bang!! Tiba-tiba bang To’ing
dikagetkan oleh suara bininya, “deuh si bini, mesti aja begini, heran gua,
kagak pernah bisa liat laki bahagia aja dikit, langsung dah!!” Nape mama
tayang?!’ jawab bang To’ing rada manyun. “Jiah, marah ni ceritanye ama aye?? Sergah
pok Rogaya sembari melotot. “nyang mareh sape sayang?! Bang To’ing dah mulai
ketakutan. “ntu bibir monyong kaia orang kagak seneng aje, aye pan Cuma mau
nganterin nih kopi bakal abang. Ya udah dah, minum tuh kopi!!’ teriak pok
Rogaye sambil ngluyur. “Tumben dah bini, kerasukan ape ya?!!’ gumam bang To’ing
sendirian. “Daaaah, lewat dah kajian tadi, belon tentu tuh yang bisik-bisik
dateng lagi!! Cape de...!! sambil tangannya nyodok tuh kopi..”syruput!!”.......
![]() |
| Add caption |
(bersambung
dah...)


