Tuhan berkata, sungguh manusia adalah mahluk yang kuciptakan secara sempurna zahir dan batin. Karena memang manusia-lah mahluk yang bisa menyatakan kemaujudan Allah SWT. namun seiring waktu manusia telah kehilangan eksistensinya sebagai manusia. ia tidak lagi hidup sebagai mahluk Allah, tetapi sudah menjadi hamba sesuatu selain Allah.
Warna ilahiah sirna berganti dengan penuhanan pada akal, harta, jabatan, keserakahan bahkan setan dan dunia. 24 jam dalam sehari akal hampir tak pernah bertafakur tentang asal kejadian diri, darimana, dengan siapa, mau apa atau kemana nanti setelah tiada? bagi manusia sekarang, hidup itu sekarang, kemarin dan besok bukanlah sesuatu yang harus dibicarakan atau dipersiapkan. akalnya sibuk memikirkan kepentingan diri, mulai dari asesoris tubuh sampai kebutuhan syahwati. maka wajar nilai manusia menjadi sama dengan hewan yang hanya berbuat untuk makan, minum, tidur, sex dan tak memiliki tujuan asasi.
Hatinya? jangan tanya, penuh dengan kekerasan, kesombongan, keserakahan, ketamakan, kekikiran serta kerakusan yang tak pernah habis. jangan juga ditanya adakah tuhan di sana?? karena tuhan baginya tak lebih dari uang, ia bisa - merasa- menemukan tuhannya dengan piknik berlabelkan haji dan umroh, ia bisa menolak azab dengan mempublikasian zakatnya dengan antrean kaum dhuafa atau memanggil kyai dan ustadz untuk membacakan yasiin, tahlil dan do'a penolak bala'.
Kehidupannya hanya dihabiskan untuk mencari kesenangan sesaat, entah itu yang namanya harta, populeritas dan martabat. kalaupun ia berbuat dalam tataran sosial itu tidak lahir karena kesadarannya melainkan karena kepentingannya. ia butuh eksposid diri, agar khalayak ramai mengetahui kalau ia adalah orang baik yang layak dapat pujian. karena di tahun-tahun yang akan datang, ia akan menagih semua pemberiannya untuk pencalonan dirinya menjadi sesuatu yang akan menambah nilai gengsi dalam sejarah hidupnya.
Lalu, di mana manusia sejati itu??
ia begitu dekat denganmu namun ia tak nampak dalam pandanganmu? kenapa? karena memang pupil matamu tak mau tau dengan keberadaan mereka yang berusaha menutupi kesejatian mereka sebagai manusia sejati. mereka dapat dikenali dengan merendahkan diri kita, menyamaratakan tempat duduk kita, karena mereka tak memiliki istana zahir namun memiliki singgasana bathin. mereka tampak tak berbaju tubuh, namun ruhani mereka padat oleh balutan cahaya ilahi, mereka tak pernah peduli dengan santapan jasmani, namun mereka kenyang oleh pemahaman cinta tuhan dan pengabdian kepada sang utusan.
Dimana, kita dapat menemukannya??
mereka tak duduk bersama ahli dunia, tetapi mereka berbaring bersama kaum dhuafa. mereka tak akan engkau temui di loby hotel, tetapi dapat kau jumpai di mihrob-mihrob yang sunyi. mereka tak akan engkau temui di mana orang-orang kaya berkumpul, karena mereka asyik bercengkrama dengan yatiim piatu.
seandainya engkau mampu duduk bersama mereka walau hanya beberapa saat, energi ilahi yang dimiliki mereka akan menerangi hatimu yang gelap gulita, akan mampu memerciki jiwamu yang sakit selama ini dengan air kehidupan yang menyembuhkan, akan menunjukkan jalan yang benar pada tapak kakimu yang telah salah melangkah selama ini.
cobalah engkau sesekali berusaha untuk menyapa dan menemui mereka, niscaya engkau akan dapat merasakan betapa nikmatnya bersanding bersama para kekasih TUHAN....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar